Tuesday, January 6, 2015

Duniaku Pahit (lagi).

Milda Gisma
Duniaku mulai pahit, lagi. Apa yang kurasa kini hambar. Sekuat apapun aku mencecap ini bagaikan tiada rasa. Entah apa yang telah terjadi, yang awalnya penuh pelangi kini mendadak menjadi hitam putih. Aku bingung apa yang sedang kulalui, seketika duniaku buram. Aku coba untuk tetap berjejak pada tanah, namun langkahku semakin oleng. Aku coba berpegangan pada langit, namun aku terlanjur tergelincir pada licinnya peradaban. Tak ada lagi sinar terang, baik pagi atau malam. Tak juga ada angin yang berhembus, apalagi hujan turun. Semuanya serasa hampa. Semakin kusadari, dadaku semakin sesak. Aku terduduk kaku di sudut penderitaan, atau mungkin ditengah-tengah mereka yang sedang bahagia. Ah, apa itu bahagia? Aku sudah lupa. Ah! Nafasku makin tersengal, tak mampu lagi berucap. Sepertinya akan mati aku disini, sendirian. Lalu membusuk selamanya. Tapi sejenak aku ingat ini dimana. Ini hatimu. Tempat yang dulu ku tolak untuk masuki, tapi engkau terus-menerus membawaku menari kesini, kita rangkai tawa dan cerita yang mungkin sudah basi. Lalu engkau tiba-tiba pergi, akupun tak tahu, mungkin sementara. Namun kau tak kunjung datang, hingga kini aku membeku dan mematung dalam ruang hampa dan kosong ini, menunggu engkau mengajakku menari lagi atau mendorongku keluar. Tapi aku tak dapat menunggu lama, sisa nafasku tinggal hitungan jari.

Milda Gisma / Author & Editor

Kalau ada saran dan tambahan atau juga pertanyaan bisa dilampirkan di kolom komentar ya, makasih sudah berkunjung. luvv.

0 komentar:

Post a Comment

Coprights @ 2016, Blogger Template Designed By Templateism | Distributed By Blogger Template